Stasiun

Stasiun adalah salah satu tempat favoritku.

Alasannya sederhana. Karena disana, kita belajar memanusiakan manusia.

Kita semua seketika seragam dinaungi jubah yang sama—bernama perjalanan—tanpa peduli suku, agama, brand sepatu, banyak barang bawaan, panjang jilbab, warna rambut, atau lainnya.

Aku belajar kembali percaya bahwa sesering apapun aku pernah dikecewakan manusia, mereka masih punya empati. Masih ada banyak sekali manusia-manusia di dunia dengan seberkas kebaikan di hatinya. Dan bagian bonusnya adalah: bukan sekedar kutipan kata-kata mutiara di buku motivasi sayang, ini nyata.

Tentang kisah hidup yang kau pendam dari teman-teman kontrakan namun berani kau singkap pada bapak-bapak yang baru kau temui 5 menit lalu.
Maksudku, dari mana kau yakin jika seseorang dapat dipercaya?
Menurutmu kepada siapa aku menitipkan barang saat bepergian seorang diri dan harus ke kamar mandi?
Jika kau menjawab pada petugas stasiun, ya ampun, kau benar-benar harus mendatangi sendiri Stasiun Pasar Senen saat arus mudik dan ingatlah keramaian seperti apa yang membuat mereka kewalahan.

Dan, banyak pula cara memaknai perjalanan dipertontonkan disini.

Ada ibu muda masa kini yg memperkenalkan pada anak dalam embanannya sejak dini bahwa stagnan tidak pernah merupakan sebuah opsi yang baik, walaupun mungkin bayarannya berarti satu gerbong kereta akan berisik oleh tangisan bocah yang enggan minum susu, menyisakan sepasang orangtua yang harus memutar otak.

Gerombolan pemuda sangar dengan carrier Eager dan The North Face barangkali menganggap perjalanan sebagai suatu tantangan, sebagai suatu nilai yang lebih penting daripada destinasi itu sendiri. Perjalanan mungkin seperti gunung yg menjulang, harus ditaklukkan betapapun beratnya. Namun sebagaimana iklan di TV jaman dulu, bareng-bareng lebih rame!

Masinis dan kru kereta api menurut dugaanku bisa menilai perjalanan sebagai sebuah pundi-pundi rupiah yang tak bisa dibantah. Tidak masalah disemprot ibu-ibu yang nampaknya enggan berusaha memahami dan tak tahu apa-apa selain mengomel dan mengeluh, atau berulang-ulang menjelaskan peraturan untuk tidak membawa seikat durian ke dalam kereta pada kakek udik yang ngeyel, selama ibu dari anak-anak mereka di rumah masih bisa memasak.

Perjalanan juga merupakan rangkaian proses menyelami kata pulang. Aku yang lambat laun juga semakin sadar bahwa 'rumah' sendiri merupakan sebuah kata yang sangat subjektif. Kemana kau akan pulang? Ke rumah? Rumah yang mana? Bahkan kontrakan di Bogor tempatmu merantau, yang dulu menjadi salah satu tempat yang paling kau benci, membuatmu tidak betah, mudah menangis—berilah paling tidak setahun—kini menjadi tempat yang bisa kau anggap sebagai rumah, bukan? Jadi, perjalanan mana yang bisa kau namakan pulang?

Dan tentu banyak juga yang setuju jika perjalanan adalah sesuatu yang melelahkan, sebisa mungkin dihindari. Sudah lelah fisik, otot bokong yang rasanya dibuat kaku karena duduk dengan posisi yang sama berjam-jam, ditambah lelah emosional. Wajah sedih ibu yang baru saja kutinggal rasanya tidak kunjung pergi dari benak. Sekilas perasaan tak nyaman karena meninggalkannya untuk kesekian kali lagi-lagi melintas diam-diam ke dalam hati dan membuatku kehilangan selera makan.

Selalu seperti itu.

Pada akhirnya, stasiun selalu mengingatkanku pada perjalanan, yang bagiku berarti rekreasi spiritual. Lebih banyak waktu untuk leluasa berkontemplasi di sela-sela tempat baru dengan nafas dari kehidupan yang juga baru.

Apa arti perjalanan untukmu?


0 Comments